Whatta long day….

Deadliner gemaz. Ku lelah. paling ga sudah menghasilkan a really lazy house low poly by 3ds max ini ghaes.

simple-house-3d-model-3d-model-low-poly-ma-mbhopefully im getting good at this

23th July 2016

Have you ever feel so lonely in a crowded place? don’t ask me because I feel that so often. But that’s definitely my own fault for being the lone wolf. I’m the one who shut myself down from people, from the emotional bond around them.

I hate being sad. I hate being weak. I hate how I can actually feel so dependent to people.. I want to love me when I’m alone. I want to love me when no one can’t. I want to love myself fully so I can love my partner properly.

I’m actually just a lone wolf who show up as a cheerful- witty cat who loves happiness.

I’m actually just a lone wolf who shut myself down on the weekend, to the dark corner in my own room.

I’m actually just a lone wolf who feel so dissatisfied with every single thing that I’ve done.

I’m actually just a lone wolf who worth the blame when a friendship ended because of distance that I built on my own.

I’m actually just a lone wolf.

21th Juli 2016

This text supposed to be written at 22th tomorrow. But who cares? I can’t wait anyway so I’ll just write it now since I haven’t write any ’22th’ post last month. June has so many pretty remarkable memories but that also became the reason that its kinda shocked me to write anything (laughs).

3.13 PM, with an empty large cup of my deliciousl creamy red velvet coffee and 5 pieces left of roma marie biscuits, I decide to tasted back the bitter- sweetness of being a loner wolf I am like how I used to a year ago. Its stopped since I’m going to my new college but doesn’t mean I can’t enjoyed it anymore. Its still fun for me- to watches the world spinning around me, without me stepping on it. I’m just sit down here listening to the greatest of Rihanna’s and draws randomly on my photoshop.

Doesn’t mean my brain are on my screen though.

My eyes indeed fixed on my screen, but my mind keep wandering around to the person that i’ve been fall in love with for two months.

Oh well, just now, Rihanna’s ‘We Found Love’ played on my iTunes. Can’t help but giggles it off. Let me just jam on it for awhile.

Wahyu, is the real name of Mr. Raspy Voice that I once wrote on tumblr. I’m not sure what I’ll going to write but i’ll just write what i feel and everything nice about him, I guess.

Its confusing to me, to be in love like this. almost feels like a first time, that my heart feels like its going to burst anytime soon into a bunch of fireworks coloring the skies. Its confusing that love could warmth my chest and tingled all the tips of my fingers. This is also the first time that I become so sure that ‘butterflies in my tummy’ quote is exist. My tummy feels weird and funny and everything’s warm and pinkies. its even tickles the tip of my nose. This all feels so weird for me that drives me crazy.

Not forgetting the fact that I could smile 24 hours just with the thought of him in my mind every-single-fuckin-time.

So my love for him isn’t one sided like i thought it’d be. Sometime I still thought that everything’s just a dream, that we finally confessing our love for each other. There’s no specific date when was everything’s started, but I’m so sure that I could explained specifically about what I feel to him, or how he makes me feels.

The way he talk, the way his words are just so simple and the way he trying to act cutely, will definitely be the death of me.

I’d like to just imagining my fingers tangled his fingers and holds it for awhile– no, forever. I’d just like to remember how he makes me smile on a very easy way that not everyone could ever do. I love how this relationship promised me so much. I love how I feel so contently in love with him, its makes me sure that I don’t mind spending my life to just waiting for him, to be mine, fully, yes, like– marriage.

its funny it just need 2 months for me to feel this content.

and surely, will least, really- really longer than I could imagine.

Because he’s the first person that makes me feel this way, after my first love broke my heart 5 years ago.

and definitely will be the last that could make feel this way again.

Wahyu

Yee. udah bisa update wordpress dong. Alhamdulillah tiba-tiba dapet durian runtuh, dapet laptop baru hehehehe. sebenarnya yang lama masih bisa sih, cuman keyboardnya aja tuh. Jadi mungkin kalo buat nugas-nugas gambar, desain dan ngetik bakal make yang ini ya, satunya buat dengerin lagu sama nonton film.

Anyway, whatta weird way to started a post. Oke ulang.

HAAAAAAAAAAAAY. Kapan terakhir update wordpress coba. Selain karena faktor keyboard rusak kayaknya faktor kerasnya dunia perkuliahan beneran bikin susah update banget ya. Doain aja mulai sekarang bakal rajin-rajin update lagi. (Padahal ga ada yang baca). Huehuehue. Kangen nulis. Padahal nulis juga ga pernah bener sih. Biarin ah yang penting seneng.

Sarah sengaja bener ya judul postnya Wahyu. He’em. Jadi ceritanya kunyuk satu itu suka tau-tau ngecekkin wordpress gue gitu. Jadi sebenarnya ini post ga tentang Wahyu wahyu banget sih cuman supaya Wahyu ge’er aja. Bhai.

Lah emang Wahyu siapa, Sar?

Itu si anu, Kunyuk keriting dari negeri entah berantah. Iya walaupun orangnya agak absurd-absurd rese gitu Sarah mah teteup sayang.

Tsah.

Jadiiii… Harus nulis darimana ini? Tentang apa? Kok gue bingung. Udahan aja dah yak. Eeeh engga deh. Mau cerita soal kuliah deh. Sama Wahyu lah dikit.

Dikit, iya. Dikit aja.

Jadiiii, Sarah kuliah dimana sekarang? Sering banget ditanya begitu. Suka bingung jelasinnya karena gue kan jatuhnya ngulang lagi dari semester 1 akibat kegagalan dalam beradaptasi (alesan) di kampus yang terdahulu. Jadi kalo ditanya begitu mau ga mau musti gelar tiker dulu di lantai, duduk bersila sambil pasang muka paling serius. “Ceritanya panjang…. sini duduk sama tante.” Kemudian tinggal drive thru-in aja kopi hitam dari warkop terdekat, sama gorengan buat dicocol ke petis yang sama hitamnya, hitam pekat, sepekat rasaku untukmu. Engga, Sar. Cukup.

Jadi dulu sempat masuk UIN jurusan tarjamah yang notabene jurusan Bahasa Arab prodi Linguistik. Agak ngaco sih jelasinnya, pokoknya itu jurusan yang ngajar tuh dosennya orang linguistik semua deh, jadi bener-bener jadi lebih ke anak linguistik daripada ke sastra itu sendiri. Susah dong, Sar? Subhanallah, jangan ditanya. Tiap hari mau nangis aja rasanya. Ngerti juga engga. Tapi sebenarnya lumayan menikmati sih. Karena aslinya suka sama bahasa, disitu lebih diajarin tentang struktur bahasa daripada sastranya. Cuma ya itu. Yang pinter bahasa arab aja pada ga betah gimana gue yang cuma butiran pasir di padang tandus? Ga usah nyanyi ayat-ayat cinta, please.

Terus gimana, luh? Pindah gitu ke kampus yang sekarang padahal udah setahun disana? Yo’i. Pada bilang “Sar, itu ga rugi waktu rugi duit apa?”. Percayalah, ga ada ilmu yang merugikan, Nak. (Nyemangatin diri sendiri)

So, akhirnya gue pindah ke Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta. Ini yang ngusulin pindah kesini juga sebenarnya temen yang di UIN juga sih. Dan ternyata gue masuk. Merasa cukup beruntung loh ini masuk negeri lagi, tapi emang tesnya lumayan gampang, asli. Temen-temen tuh yang sampe “Ini yang ga keterima tes emang separah apa dah” soalnya emang beneran gampang banget. Ada temen yang ga ngerjain satu pelajaran aja keterima gitu. Gue juga sih tang ting tung gitu 80%, lagian tesnya pelajaran IPS semua. Gue kan anak IPA! (Padahal kalo soalnya IPA juga sama aja sih di tang ting tungin juga). Akhirnya yang ke-isi bener-bener cuma Bahasa indonesia sama Bahasa Inggrisnya doang. Oh iya sama tes-tes gambar. Kemungkinan besar nilainya paling besar di ambil dari tes itu sih. Makanya banyak sekelas sama seniman, yang malah sama sekali ga kayak anak desain grafis. Orang-orangnya kuno, nyentrik, bajunya item-item semua, sampe jadi suka lupa gitu ini mah anak desain grafis bukan forum lingkaran setan. Pernah pas angkatan kita bikin bukber desain grafis, angkatan senior-senior juga pada ikut kan, kita semua shock, semua kembaran pake kaos item. Sampe temen yang baru dateng, dan kebetulan lagi pake baju warna biru putih terang, nanya, “Ini ada dresscodenya ya…?” Pokoknya ga berasa anak desain grafis deh. Kayak masuk seni murni gitu.

Oke tadi sampai mana? Yah pokoknya gitu deh. Pindah kampus, temen baru. Dan alhamdulillah temen di kampus yang sekarang ternyata sama laknatnya kayak gue. He eum. Makhluk random semua. randomnya keterlaluan. Nnati kapan-kapan dibikinin deh post khusus mereka. Asli sampe pengen bikin novelnya cuma buat nyeritain temen random tuh satu-satu.

Udah ah, mau nyeritain Wahyu deh sekarang. Biar ga php judul gitu.

Wahyu siapa? Ish, ga tau gue juga. Ketemunya aja random, kenalnya random, makhluknya absurd, jadinya ya absurd. Pokoknya pertama kenalnya dan merasa-harus-kenal-lebih-dekatnya tuh karena suaranya. Iya, suaranya. Raspy raspy menggigit gitu. Rasanya keren aja gitu, ada orang yang suaranya seenak itu. Dih lu ngupingin apaan emang kenal dari suaranya dulu? Dari smule lah. Itu loh, aplikasi yang karaokean ituh. Kenal dari situ dulu, kebetulan kita satu grup gitu kan. Terpaksa kenalan deh. Sebenarnya juga iseng-iseng aja sih ikut grup gituan. Gue aja gatau itu audisi apaan di smule, gue join join aja? Eh masuk??? laaaah???? ini apaaan????? gue sampe bingung dulu itu pertama. ngertinya cuma pas udah dijelasin sama mba masnya. Gataunya itu audisi buat masuk grup-grupan gitu di smule. Lumayan lah nambah temen. Dapet ebeb juga. Ebeb Wahyu.

Engga kok asli ga ada niatan bikin Wahyu jadi ebeb. Ga tau kenapa kan tau tau awalnya jadi suka ngobrol gitu. Eeeee deket, Eeeeee keterusan. Maka ya gitu. jadinya, gitu. gitu.

Udah ah, ntar dibaca Wahyu. Malu.

Lena Berjanji

Tepat pada pukul 22.00 WIB saat itu juga, Lena telah berjanji, berikrar, bersumpah pada dirinya sendiri. Ia memandangi layar telepon genggamnya, alisnya berkerut, menunjukan ekspresi ragu. Sebelum diayunkan tangannya, ia menggigit bibir bawahnya dan menutup matanya rapat-rapat. Seakan-akan seperti akan menyembelih anak kandungnya yang sudah dibesarkan selama bertahun-tahun. Gerakan Lena lebih tajam sekarang, luwes, telah yakin akan apa yang dia lakukan. Kemudian telepon genggamnya terpental, lepas dari genggaman jemarinya. Terayun sebentar sebelum jatuh tergeletak di atas kasurnya. Segera Lena tutupi handphonenya itu dengan bantal, lalu ia pukul-pukul dengan tinju mungilnya.

“Engga boleh liatin handphone lagi. Lena, stop pelototin layar hape. Lena fokus hidupmu aja, nak. Fokus!!!!”

Handphone Lena yang tak berdosa itu jelas tak merespon apapun pada yang diucapkan oleh Lena. Lena merengek sendiri dan meninju bantalnya makin keras.

“Engga boleh cek BBM dia, engga boleh cek akun Line dia, engga boleh stalk Twitter dia!! Engga!!”

Tinjuannya makin melemah sebelum Lena mengubur wajahnya sendiri pada bantal merah mudanya itu. Dia mendengus kesal. Atau lebih tepatnya melengos.

Hati Lena kacau. Lena patah hati setelah mengetahui bahwa orang yang ia kagumi atau biasa ia sebut sebagai gebetan, menyukai sahabatnya sendiri, yaitu si manis Ria. Lebih menyedihkannya lagi, Lena menyesal karena tidak pernah bilang pada Ria kalau ia menyukai Wisnu.

“Seandainya aja gue ngasih tau Ria, dia pasti engga bakal nerima Wisnu pas Wisnu nembak dia. Kan Ria sohib gue.” Pikir Lena.

Ah masa bodo. Lena meninju bantalnya lagi. Memeluk gulingnya, berguling di kasur, memandangi langit-langit kamarnya. Seperti seekor kucing yang sedang dipeluk rasa suntuk.

Lena menutup matanya. Malam ini sangat dingin dan sunyi. Biasanya terdengar nyanyian jangkrik yang saling bersahutan di belakang rumah Lena. Atau setidaknya dengungan nyamuk berputar-putar di dekatnya. Namun malam ini berbeda. Dan Lena mendadak merasa kesepian.

Engga. Apapun yang terjadi, gue engga bakalan buka handphone gue. Engga bakalan gue buka. Ini janji pada diri lo sendiri, Len. Janji harus di tepati. Engga boleh buka hape. Engga boleh buka handphone.

22.08 WIB, Lena mengingkari janjinya sendiri.

Tagged ,

Makan yang banyak, ya.

ya… wanita itu, intan namanya.

bisakah disebut wanita? masalahnya beliau masih suka bayar angkot tarif anak SD rupanya. baiklah, penulis larat- ralat jadi gadis.

gadis ini berambut lurus mengembang sebahu. multifungsi rambutnya. kalau dompet sekarang sering jadi incaran pelaku-pelaku kecil di angkot, intan tak perlu khawatir karena recehannya muat di rambutnya.

jalannya kecil-kecil, kalau ada suaranya bisa jadi terdengar ‘utuk-utuk’ di setiap langkahnya.

kalau ga kenal dia, gadis ini bisa dikira gadis emo. bibirnya warnanya gelap. bukan karena apa, ini sudah genetika atau masalah hormon, entahlah, saya tak begitu mengerti biologi. padahal jiwanya bagaikan shoujo manga. warna warni indah bermimpikan sebuah kisah cinta penuh pelangi dan kuda poni. dengan sedikit bumbu rated m.

siang hari itu, intan lapar. ya. intan manusia biasa yang bisa lapar. amazing.

tapi saat-saat lapar bagi intan sekarang adalah sesuatu yang spesial. karena ketika lapar, ia akan mengunjungi warteg dekat rumahnya, warteg langganannya. intan sampai berdebar-debar hanya dengan memikirkannya.

loh ada apa ini? apa spesialnya?

baru satu langkah ia masuk ke dalam tempat favoritnya, ada pelangi tumbuh menjulang dari retakan lantai warung di sisi kanan ke atas celah langit-langit warung yang sering bocor.

ada bulu-bulu angsa berterbangan ditiup kipas angin kecil yang diletakkan di atas lemari kaca. ada baekhyun dan kyungsoo yang tiba-tiba menyenandungkan my lady di samping kiri dan kanan intan.

dan ada sosok itu. yang dilihat intan dengan tatapan penuh hati seperti emoji. sesosok lelaki berbadan bidang nan tinggi, yang ia bilang jika dilihat dari sisi kanan 130 derajat dari kejauhan sekitar 5 meter dari kursi tempat ia biasa memandangi sosok ini dari kejauhan, makhluk ini terlihat seperti kim jongin.

ya… lelaki itu. pedagang warteg jomblo yang cukup terkenal di kalangan pedagang lainnya.

entah intan tak tau namanya. karena biasa orang-orang memanggilnya ‘mas ganteng’. intan ingin ikut memanggilnya mas ganteng, tapi jadi terdengar seperti ibu-ibu kepala empat dan lima yang sudah jadi pelanggan tetap mas ganteng ini. mau juga ia panggil mas jongin, tapi intan takut ia bakal dikira gadis-gadis pecinta korea yang fanatik itu. ia tak mau diremehkan seperti itu. jadi ia pun memanggilnya dengan mas kai.

….yha.

hari ini intan rencananya cuma ingin memesan nasi dengan tempe orek, kentang kering dan kentang balado.

ya maklum lah…. intan sedang rajin menabung, untuk menjadi manusia ideal indonesia.

intan diam memperhatikan mas kai ini dari balik lemari kaca. indah … intan membayangkan berapa kadar bubuk ganteng dan bumbu kharismatik yang dibutuhkan tuhan untuk membuat makhluk ini. sayang kok ya tukang warteg….. mungkin saat memberi bubuk rejeki, tuhan menggunakan sendok teh.

intan bisa membayangkan hidup bersama lelaki impian di depannya ini. sarapan dengan telur mata sapi atau cap cay…. ah. bahkan intan rela kalo hanya sarapan kentang balado setiap hari. asal sarapan bersama mas kai. intan merasa bisa hidup di keadaan apapun. asal ada masakan mas kai. asal ada dada bidang mas kai yang memeluk intan tiap hari. asal ada badan mas kai yang tinggi, bisa bantu intan membersihkan debu diatas lemari bajunya. aih.

tapi intan punya saingan.

ya….. saingan itu ada di sampingnya sekarang. seorang gadis cantik nan bohay, kaki panjang yang mulus, serta rambut berkilau berkibar-kibar tanpa ada kejelasan darimana sumber angin berasal, wajah yang agaknya mirip dian sastro, yak. inilah dia malaikatnya pedagang di daerah rumah intan. wati namanya. dia anak pemilik counter hp di sebelah warteg milik mas kai ini…. dan agaknya, walaupun wati ini cantiknya sampai bisa nyaru sama member snsd, dia agak anu…. istilah sopannya, oon. ya paling tidak begitulah yang intan pikirkan tentang gadis ini. karena wati pernah memberi mas kai uang 10rb padahal harga nasi dengan cap cay, telur, kentang kering dan tempe orek adalah 15rb termasuk nasi. cih. intan saja tau. cinta itu kan usaha…. ya usaha hapalin harga jualannya kek! 

“Mas, aku mau yang biasa ya..” kata wati.

cih, sok akrab.

“Mas, aku juga mau yang biasa aja ya!” intan ga mau kalah.

wati memandangi intan dengan tatapan sinis.

intan gamau kalah, dia sibakkan rambutnya yang kusut hingga uang recehnya tertampar ke wajah wati.

wati mengumpat, intan tersenyum puas sebelum membungkuk untuk mengambil kembali uang recehnya.

“eh, mbak wati, saya lupa yang biasa mbak wati beli yang mana. pake telor apa enggak?” kata mas kai dengan nada suara malu-malu.

AIIIIIIIIIIH MANISNYA. pikir wati dan intan berbarengan.

“ah, aku pake telor deh mas.. gapake juga gapapa… aku sih terserah mas aja.. kalo mas sanggup, aku sanggup..” ucap wati sambil tersipu malu.

mas kai bingung, intan memandang jijik wati.

keheningan akhirnya terpecah ketika mas kai menatap intan. sekarang intan bisa mendengar kyungsoo menyanyikan lullaby indah di telinganya. kelopak-kelopak mawar putih juga ikut berjatuhan. seketika wajah mas kai penuh glitter dan glow in the dark. andaikan waktu bisa berhenti.

“yang biasa itu, tempe orek, kentang kering sama kentang balado ya?” ya…. intan memang rajin menabung tiap hari.

dan pada saat itu, gadis itu hampir jatuh karena terlalu bahagia.

“i..iya mas..”

tiba-tiba kikihan wati menghancurkan surga sementara intan, yang dicurigai intan sebagai kikihan meremehkan.

“kalo pelajar beda ya.. jadi ingat waktu kita kelas 2 SMA ya mas..” kata wati pada mas ganteng.

dunia intan pun menjadi runtuh. si monyet ini satu sekolah sama mas kai…?

reaksi mas kai makin membuat perut intan mual.

“haha iya. waktu itu kita makan bareng ya mbak di kantin. bareng temen-temen.. pas di jogja juga sering makan berdua.”

“iyakan mas. aduh kangen deh mas. nanti kita kesana yuk mas berdua.”

“boleh-boleh, nunggu warung tutup ya mbak?”

kyungsoo berhenti bernyanyi.

kelopak bunga mawar terbengkalai di lantai.

pelangi menghitam.

kuda poni kembali ke asalnya.

musik berhenti dilantunkan.

dan hati intan hancur.

hampir saja intan mau pergi dari warteg dan makan saja di lawson. persetan dengan nabung. tapi kemudian mas kai memanggilnya, dan memberi bungkusan nasi seperti biasanya. intan keki. langsung saja memberi mas kai sejumlah uang dan mas kai memberinya kembalian yang langsung intan taruh di kantungnya.

awan mendung mengikuti tiap langkahnya hingga ia sampai ke rumah.

namun intan kuat. intan setrong. intan tak menangis. bahkan akhirnya memutuskan untuk langsung menghabiskan nasi wartegnya dengan marahnya.

nasi mas kai.

ah… dunia tak adil.

mas kai satu sekolah dengan wati dulu… dan makan berdua. itu kan impian intan. makan berdua dengan mas kai.

curang sekali si monyet cantik itu, sudah pernah makan berdua dengan mas kai.

sambil membuka bungkusan nasinya, ia terkejut. menyadari sesuatu yang berbeda.

ada telur mata sapi di nasinya.

apa mas kai salah kasih nasi.. 

intan mengambil kembalian di sakunya untuk memastikan uang yang diberikannya ke mas kai sudah pas, dan betapa terkejutnya ia menemukan sehelai kertas putih di antara uang seribuannya.

makan yang banyak ya intan, jangan nabung terus.

– Aldo

sejak saat itu, lelaki yang selalu mampir untuk menyiapkan sarapan intan bernama Aldo.


cerpen hina ini dipersembahkan untuk intan, ciwikku :”’)))))

Realita sakit bro

His eyes was looking into your soul. Deep and full with affection. His hand still on your grip. But everything seems different, because you cant see his face, you cant feel his heat, you cant feel his gaze. 

But those feeling, its true.

You love him. He love you.

But you dont even know who is he.

He dont even know who you are.

Okay, you know him- well, not really. Because you just know him through the text that he has sent to you everyday.

But it just a text, so-

 

Welcome to the fake internet relationship.

 

Welcome to the roleplayer world.

Permainan.

Sebuah permainan petualangan akan sangat menyenangkan ketika kita baru pertama kali memainkannya.
Kita dikenalkan dengan suatu yang baru, dikenalkan dengan suatu petualangan baru.
Kita harus menyelesaikan misi yang ada.
Kita menyerang, bertahan.
Kita kalah, kita menang.
Kita juara, kita bosan.
Beberapa di antara kita masih memainkan permainan tersebut, dan tidak menjadi bosan walaupun ribuan kali memainkannya.
Namun beberapa di antara kita bosan, atau menyerah dengan permainan itu. Kita meninggalkannya, dan beralih ke permainan baru.
Anggap saja aku tipe sekelompok orang kedua.
Yang sangat mudah bosan, sehingga mudah beralih ke permainan lain.
Permainan yang sedang aku bicarakan ini adalah sebuah hubungan.
Sebuah ikatan. Mungkin tak seerat ikatan, karena hubungan ini selalu bersifat sementara. Hanya menarik di depan, alurnya mudah terbaca.
Selalu berawal dari ketertarikan terhadap sesama, dan berakhir dengan penarikan diri dari kehidupan mereka yang telah dipersatukan- menjadi terpisah kembali.
Ketika dua menjadi satu hingga satu terbelah dua.
Selalu seperti itu. Berulang.
Namun walau aku tau alurnya selalu seperti itu, aku terus memutar siklus itu; memulai permainan baru – excited – kecanduan – terjebak konflik – berhasil menemukan jalan kemenangan – jenuh – mencari permainan baru.
Siklus itu terus berputar. Dan selalu ada sebukit pertanyaan yang sama ketika aku akan memulai, atau lebih tepatnya memutar ulang siklus itu; “apakah aku akan bosan? Apakah hubungan ini akan bertahan lama? Untuk apa aku menjalani hubungan ini? Toh aku akan berakhir bosan. Seperti yang sudah sudah”
Hal ini sangat tidak baik. Aku tau itu. Tapi aku tidak bisa menghentikannya.
Aku tak bisa memaksakan diriku untuk terus menjalaninya, atau berpura-pura. Aku tidak bisa tersenyum ketika aku merasa tidak menginginkannya. Aku tidak bisa terus menggenggam sebuah hubungan ketika cengkramanku sendiri sudah melemah.

Aku sedang belajar untuk mengatasinya.

Sekarang aku adalah sebuah permainan. Ada seorang prajurit yang akhirnya masuk ke dalam kehidupan petualanganku.
Dia memilihku, dia memilih untuk memainkanku.
Aku bisa saja membuatnya bosan, dengan cara memudahkan ia untuk memenangkan segala tantangan. Atau bisa juga dengan cara merumitkan segala konflik; sehingga ia akan menyerah, dan pergi.
Dan ternyata mempertahankan sang gamers tersebut untuk memainkanku, jauh lebih sulit dibandingkan untuk membuatnya bosan.

Kini biarkan aku belajar. Aku akan membuatnya bertahan.

Have you ever fallen in love before?

Have you ever fallen in love before?

Gue tertegun.

Kalimat ini muncul di halaman paling awal google ketika gue sedang iseng browsing fanfiction selagi gue lagi dalam waktu luang.

Gue berniat mengklik fanfiction itu, tapi kepala gue berhenti berfikir. Seakan-akan waktu berputar terbalik. Seperti jam pasir melupakan gravitasinya dan menerbangkan pasir-pasir waktu kembali ke atas. Gue tersenyum sebentar sambil kembali membaca kalimat tersebut.

Have you ever fallen in love before?

Secara otomatis isi kepala gue menjawab: Yep, For maaaany times.

Tapi di antara ‘for many times’ itu, ada satu yang paling berkesan.

But first, I’ll tell ya somethin’. Gue adalah tipe cewek yang so easy to fall in love with someone. Dan semudah itu juga gue untuk melepas rasa suka gue.

Beberapa kali gue menganggap rasa itu cuma ‘penasaran’. Karena setelah gue menyadari sesuatu yg bisa membuat gue puas, rasa suka itu menguap. Sekiranya itu kata-kata yang paling cocok untuk menggambarkan semudah apa rasa itu hilang.

Tapi gue masih ingat benar, satu kali gue percaya bahwa suka seseorang bisa selama itu dan sesulit itu untuk melupakannya.

Cuma sekali. Dan gue yakin ga akan terjadi lagi. Mungkin.

Seperti yang sebelum-sebelumnya, hal yang bikin gue tertarik dengan cowok spesial ini cukup sepele. Dia bantu gue ngerjain PR Matematika gue pas kelas 10. Dia ga sekelas dengan gue, dan gue lari kesana-kemari mencari jawaban PR Matematika yang cukup bikin gue gila. Dan dia, dia adalah pahlawan gue satu-satunya ketika gue sedang dalam masalah besar saat itu.

Sangat simpel, tapi gue masih inget gimana rasa gugup dan tegangnya gue ketika badannya duduk sangat dekat dengan gue, sampai parfumnya tercium.

Gue tersenyum. “Oh, jatuh cinta lagi?” Begitulah respon hati gue.

Gue masih ga ngerti. Cuma gugup dan tegang, lo langsung menyadari kalau itu cinta?

Ya mungkin begitu.

Gue bukan cewek yang gampang mengingat wajah seseorang, apalagi namanya. Tapi cowok yang satu ini, wangi parfumnya, semacam wangi segar yang sampai sekarang nalar gue bilang itu adalah wangi jeruk, wanginya selalu nempel di hidung gue dan tersimpan di otak gue. Tersimpan sebagai memori ga penting lain yang terpaksa gue inget seumur hidup.

Wangi jeruk itu, wangi yang spesial.

Gue sempat ke toko parfum buat nyari parfum yang mungkin wanginya sama seperti yang dia pakai. Dan gue ga nemu. Gue sempat terkekeh mengingat hal ini. Gue hampir mirip dengan cewek pervie yang cuma mengingat wangi tubuhnya aja. Bukan wajahnya. Gue hampir merasa seperti cewek murah yang mengingat seorang cowok dari wangi tubuhnya.

Aneh ya? Begitulah.

Gue cukup ragu apa gue jatuh cinta dengan dia, atau cuma dengan parfumnya aja.

Suatu hari, gue duduk di angkot seperti biasa, sambil memakai headset dan menyalakan lagu rock kesukaan gue, Guns and Roses – Garden of Eden. Gue melihat ke arah luar jendela sambil ga melihat keadaan sekitar gue sedikit pun.

Tiba-tiba wangi itu menyeruak ke dalam hidung gue lagi.

Otomatis gue menoleh, dan mencari. Wangi yang ga asing itu, wangi yang selama itu tersimpan di dalam memori gue…kini ada di samping gue. Melihat gue dengan wajah heran.

“Lo yang dari kelas sebelah itu kan?”

Gue tertegun. Lidah gue masih kaku untuk menjawabnya.

“I..ya…. yang nyontek matematik lo itu..” Jawab gue. sok cool. Masih ingat benar betapa gue mencoba untuk calm tapi hati gue serasa memberontak.

“Oh ternyata bener, pantes aja gue ga asing liat muka lo..” Katanya sambil menyeringai. Satu lagi yang kini masuk kedalam memori gue secara paksa, menekan seluruh memori-memori lain untuk dibuang keluar, menyeruak masuk di kepala dan menjadi kenangan gue sampai saat ini, senyumnya dengan gigi taring gingsulnya yang menganggu deretan rapih gigi lainnya.

Gue cuma balas senyum. Dan kemudian obrolan mengalir begitu saja, seperti gue terus menghirup wangi parfum jeruknya dan menangkap senyum gigi gingsulnya.

Satu persatu potongan memori itu mulai sepeti puzzle, semakin banyak, namun belum berbentuk. Potongan puzzle pertama berupa wangi parfumnya, kemudian senyum gigi gingsulnya, dan kemudian yang paling indah di antara yang lain, mata kucingnya.

Benar-benar seperti kucing, tajam, tapi lembut dan penuh kemanjaan. Matanya seperti akan menyerang, menerkam, tapi bisa juga hanya akan mengacuhkan. Penuh dengan arti dan tak bisa ditebak. Apa yang dia pikirkan tidak bisa terlihat di matanya, karena dia memantulkan 2 arti di matanya: tertarik atau tidak tertarik. Dan karena itu sampai saat itu, gue belum menemukan jawaban dari pertanyaan simple gue; dia tertarik, atau ga tertarik dengan gue?

Beberapa kalimat mulai sering ‘terpaksa’ masuk di kepala gue, terutama satu pendapat tentangnya dari seorang cewek kelas sebelah; “Dia itu ga keliatan sukanya sama yang mana, banyak yang jadi korban ‘php’ dia, mana dia temen ceweknya banyak, lagi!”

Dari kalimat itu, puzzle-puzzle tentangnya mulai tersusun rapi.

Gue sudah mengingat seperti apa rupanya hingga detailnya di memori gue saat itu, gue sudah hampir menemukan kepingan-kepingan puzzle itu, dan gue sudah mengingat bagaimana sifatnya yang ramah dan sering disalah artikan pada yang lain, cuma satu puzzle yang belum ditemukan; bagaimana pendapat dia tentang gue?

Seketika gue pingin berhenti menyusun puzzle di otak gue.

Gue takut. Gue takut ketika gue tau tentang perasaannya, puzzle yang dicipatakan otak gue akan membuat rasa ‘puas’ di hati gue tumbuh, dan menguapkan rasa sayang dan suka gue yang udah gue jaga selama 5 bulan. Waktu yang cukup lama untuk gue ‘jatuh cinta’.. ga seperti yang sebelumnya yang cuma berakhir dalam waktu kurang dari sebulan.

Dan beberapa saat kemudian, seiring dengan jawaban atas pertanyaan gue terjawab, kepingan puzzle yang hilang itu mau-ga-mau masuk ke dalam kepala gue.

Gue merasa kosong. Hampa. Tapi beda dari yang biasanya, gue merasa sakit.

Dia menggandeng tangan orang lain. Perempuan, pastinya. Dengan senyum khas gigi gingsulnya, mata kucingnya yang seolah ‘hanya menatap padanya’, dan wangi jeruk yang akan ikut menyeruak menyelimuti gadis beruntung itu.

Gue tersenyum.

“Nanti juga hilang..” Batin gue.

Tapi sakit itu masih ada.

Beberapa kali gue terpaksa menumpahkan air mata gue ke bantal tidur gue. Gue memang sering nangis, tapi air mata ini cukup asing buat gue.

Puzzlenya udah lengkap. Terus gimana?

Harusnya rasa ini ikut menguap. Seperti yang dulu-dulu itu.

Tapi kenapa yang ini masih susah dihilangkan?

Apa karena kepingan puzzle yang sulit didapatkan?

Dan gue merasa, puzzle ini ga cukup lengkap untuk bikin gue puas. Apa yang bikin gue puas? Jadi pacarnya? Jadi orang yang dia cintai?

Otak gue memberontak, “Jangan egois, hidup ini bukan drama, bukan sinetron, jangan di persulit, kalau memang bukan elo orang yang dia sayang, mau gimana lagi? Terima yang ada aja lah.”

Hati gue pun terselamatkan kembali.

Meskipun bekas lukanya masih ada di hati, tapi paling ga gue udah bersifat realistis untuk yang ini.

Kisah yang simple, tapi harum jeruknya masih ga bisa terlupakan. Terlanjur di telan mentah-mentah oleh kenangan. Meresap. Pahit. Namun berarti. Karena belum ada lagi puzzle yang bisa gue rangkai seindah itu.

Have you ever fallen in love before?

————————————————————————————–

Oke, ini bukan cerita tentang gue tapi gue mencoba untuk jadi orang lain, tapi seenggaknya, cara gue jatuh cinta ga beda dengan karakter di cerpen gue diatas. gue secara ga sengaja ‘menyusun’ puzzle memori gue tentang orang itu. terus tersusun sampai rapih, dan kemudian bingung mau di apain lagi.

Coba komen dong di post ini, have you ever fallen in love before? 😉

Tagged ,

lebaran ke 17

halo halo semua selamat lebaran!

sudah lama ga buka wordpress dan begitu banyak draft yg tak terposting. kapan ya bakal dilanjutin.. *sigh*

Jadi hari ini adalah lebaran ke 17 gue. dikit ya?

17 tahun lewat begitu aja….. rasanya belum punya kemajuan yg bisa dibanggakan. masih suka bikin salah dan masih banyak penyesalan di waktu-waktu sebelumnya.

hari ini mungkin bisa dibilang mungkin lebaran paling menyedihkan buat gue..

karena pertama, gue kangen surabaya. kedua, gue kangen sidoarjo. ketiga, gue lagi sakit. keempat, sudah tua, gabakal dapet banyak THR. kelima, kurang tidur.

selama 3 tahun lebih (yah 4 tahun lah kira-kira) tinggal disini, pertama kali bener-bener nangis saking kangennya sama surabaya itu adalah beberapa hari setelah pindah disini. Ya bayangin aja lagi jaman ngalay-ngalaynya sama temen, tau-tau harus dipisah. semua orang pasti tau sedihnya kayak gimana. Tapi kalau dipikir-pikir lagi sedihnya beda ya. sedihnya khas anak SMP baru gede yang ga ngerti apa-apa selain main dan menomor satu-kan egonya.

Dan akhirnya tadi pagi gue nangis lagi.

Selama ini gue sok-sokan ga kenapa-kenapa. dengan berbekal ilmu realistis ‘terima apa yang ada’, gue maju kedepan tanpa sama sekali liat ke belakang. dengan sok-soknya gue berpikir “Oke, Sar. Lo bisa bersenang-senang tanpa harus mengingat betapa alay dan bahagianya elo dulu. Ayo sekarang bikin kebahagiaan baru dengan diri lo yang baru”. Dan dengan kebiasaan buruk gue ketika sedang sedih seluruh dunia gue salahkan, tadi pagi bekal ilmu realistis dan rasa sok-sokan itu pecah semua. jadi serpihan kaca yang sangat rapuh.

ya seperti biasa sarah yang suka memendam kesedihan ini memang paling suka meledak disaat ada satu kekesalan yang menguap. semua kejadian menjengkelkang diluapkan dalam satu waktu. padahal sebelumnya biasa aja. maka pada saat setelah shalat eid tadi, ketika puncak sakit kepala bener-bener sudah di luar batas, gue nangis di kamar meluk segala macem yang ada di kasur, sambil menyalahkan petasan semalem.

Dan kemudian otomatis seluruh dunia gue salahkan atas sakit kepala ini.

“Pusing banget, ini semua gara-gara petasan semalem! harusnya kayak dulu di surabaya aja ga terlalu banyak petasan, lagian damai liat anak-anak kampung takbiran dengan wajah-wajah polosnya muterin wonokromo, lewat pasar dan sungai disana. itu juga tadi pagi apa banget ada anak-anak remaja putri pada foto-foto pas selesai shalat eid. coba kalau sarah masih di sidoarjo atau surabaya, pasti bisa shalat eid sama fita, mbak fiya atau sama shari. minimal sama mas rangga, mas damang atau mas angger. mana disuruh salaman sama tetangga yang bener-bener ga kenal. toh ga kenal ini, ya sarah gapunya salah kan sama mereka? coba pas di sidoarjo, udh bener-bener bagus udh kenal sama tetangga-tetangga. disini sama saudara aja gabisa deket. bau opor dimana-mana nih, mana lagi mual banget, ga pingin makan opor. coba ada lontong kupang kayak pas di surabaya. pasti enak. bener-bener bikin perut ga mual. harusnya ayah biarin sarah, adek sama ibu tinggal di sidoarjo aja kayak dulu. gapapa cuma berempat, toh udah biasa. ayah juga pulang paling sebulan-dua bulan sekali. toh sekarang juga udh bingung mau ngobrol apa sama ayah. atau ga biarin aja sarah disana. sendiri juga gapapa. disini lingkungannya kejam. sarah mau balik kayak dulu lagi. sarah gamau gede. sarah mau balik kesana. sarah gamau pindah….. ”

kemudian gue pun tertidur tanpa menyadari bahwa sarah safira yang mengeluh itu telah di ambil alih oleh sarah safira umur 14 tahun yang terperangkap dalam tubuh sarah safira versi 17 tahun. sarah safira 14 tahun yang sukanya main sama temen-temen SMP. sarah safira 14 tahun yang suka nempel-nempel sama mbak fiya, gambar bareng, bikin komik aneh tentang kejadian sehari-hari. sarah safira 14 tahun yang buku diarynya dibaca semua orang padahal isinya tentang gebetan semua, dan sarah safira 14 tahun yang sebenarnya ga suka kupang tapi selalu kangen karena setiap lebaran di cekokin kupang…….

Sarah safira versi 17 tahun pun cuma bisa menangis. yah biarlah si kecil sarah 14 tahun yang egois dan ga realistis itu mengambil alih badan gue buat hari ini. toh jarang-jarang gue kangen sama kampung halaman. biasanya kan gue sok tegar.

sampe detik ini gue masih nangis. masih ngidam makan kupang dan foto kenang-kenangan sama temen-temen SMP dan SD. masih kangen shalat eid di surabaya. masih kangen semuanya..

yah ternyata mau di tutupin gimana juga, sisi ga dewasa gue ini gabakal bisa tertutupi sepenuhnya….